Selasa, 04 Oktober 2016

What is LCA??

LCA adalah suatu analisis untuk mengetahui siklus produk mulai dari pengekstrasian raw material hingga menjadi end of life dimana setiap proses memberikan dampak tersendiri bagi lingkungan. Berikut ini merupakan contoh perhitungan LCA:
Product systems
Functional unit
Reference flow
Key Parameter
Scenario 1: Plastic bag
1 bag dengan kapasitas 8 L
40 x 0,88(9/8) = 35,5 g (2 kali pakai)
-          Kapasitas dari tiap bag
-          Jumlah maksimal pakai dari tiap bag
Scenario 2: Paper bag
30 x 1,33(8/6) = 40 g (1 kali pakai)

Product System
Function
Secondary Functions
Functional Unit
Reference flow
Key Parameters
System Boundary
Scenario 1: Hot hand dryer
Alat pengering
Penghangat

1 hari = 8 kali cuci tangan
1,5 paper towel x 3,58 g x 8 = 42,96 g (kapasitas pemakaian 20 tahun)
-          Kapasitas pemakaian (jangka waktu pemakaian)

-          Jumlah penggunaan paper towel

-          Jumlah penggunaan daya dari Hand Dryer
Jumlah paper towel yang digunakan dan jumlah daya yang digunakan untuk hand dryer
Scenario 2: Paper towel

1800 W x 0,5 x 8 = 7200 Wh (kapasitas pemakaian 10 tahun)


Product system
Function
Secondary Functions
Functional Unit
Reference Flow
Key Parameters
System Boundary
Scenario 1: Deterjen bubuk
Pembersih baju
-          Pelembut pakaian
-          Pengharum (sebagai parfum)
25 gr untuk 5 kg cucian
Dibutuhkan 35 gr untuk 3,6 kg cucian
Jumlah pemakaian deterjen
Kapasitas baju yang dicuci

Jumlah pemakaian masing-masing deterjen
Jumlah baju yang dicuci
Scenario 2: Deterjen cair
Dibutuhkan 25 gr untuk 5 kg cucian

How to Build a Strong Brand??

Fokus utama dari marketing sebenarnya dimulai dari pembangunan brand (merek) yang kuat dari suatu produk. Banyak orang bertanya-tanya tentang makna sebenarnya dari marketing. Hal tersebut membuat saya ingin berargumen tentang makna marketing. Marketing merupakan suatu kajian ilmu yang mempelajari tentang market (pasar). Setelah saya berargumen, banyak orang yang masih bertanya-tanya tentang apa itu market. Market merupakan tempat pertukaran informasi antara penjual dan pembeli. Marketing tidak mempelajari tentang kajian ilmu yang berdasarkan hanya tentang keuntungan saja melainkan juga hal yang tidak bersifat menghasilkan keuntungan (non profit things). Akan tetapi yang Anda butuhkan supaya marketing maupun market dapat tetap ada adalah adanya suatu pertukaran. Saya menekankan bahwa pertukaran yang dimaksud bukan merupakan pertukaran yang telah Saya sebutkan sebelumnya. Oleh karena itu saya mengajak Anda untuk lebih dalam mempelajari dasar dari apa yang dimaksud dengan pertukaran. Sebagai contoh terdapat seorang penjual dan pembeli dan Saya disini akan membuat contoh ini menjadi sesederhana mungkin untuk menyatakan bahwa tidak ada market yang sederhana hanya sebatas pertemuan antara penjual dan pembeli saja. Oleh karena itu Saya akan mengajak Anda untuk melihat dua perbedaan yang akan Saya jelaskan untuk mempermudah mengenai pemahaman Anda akan pertukaran sebagai kajian ilmu dari marketing. Perbedaan yang pertama adalah dari sudut pandang pasar penjual (seller’s market). Seller’s market yang dimaksudkan adalah penjual memiliki produk yang ditawarkan pada konsumen dan ketika Anda menginginkan produk tersebut, maka Anda harus datang kepada penjual untuk mendapatkan barang tersebut. Jadi yang dimaksudkan disini adalah penjual memiliki kuasa untuk menjual atau tidak kepada konsumen tersebut. Berlawanan dari hal yang telah Saya jelaskan sebelumnya adalah sudut pandang dari pasar pembeli (market’s buyer). Pada buyer’s market terdapat banyak sekali persaingan dikarenakan banyaknya produk yang dijual, sehingga semua pembeli memiliki kuasa yang sama untuk membeli produk tersebut. Melihat hal tersebut Saya berargumen dan Saya pikir akankah hal tersebut masuk akal bahwa sudut pandang marketing dari pasar penjual (seller’s market) dan pasar pembeli (buyer’s market) sama? Pada sudut pandang seller’s market, marketing yang dimaksud adalah product focus market (memfokuskan produk tertentu yang dijual kepada masyarakat luas tanpa memerhatikan kebutuhan yang dialami konsumen). Seorang penjual yang memiliki produk harus mengerahkan segala kemampuan mereka untuk membuat pembeli tersebut benar-benar ingin membeli produk tersebut. Tujuan penjual pada product focus market ialah menjual suatu barang tertentu dengan pangsa pasar yang luas, sehingga pendapatan dari penjual juga meningkat. Adanya pangsa pasar yang luas dapat menyebabkan peningkatan penjualan, sehingga dapat mengurangi biaya-biaya untuk sebuah produk tersebut. Akan tetapi muncul sebuah pertanyaan ketika penjual hanya fokus untuk menjual sebuah barang tertentu, bagaimana mereka dapat berkembang? Akankah penjual tersebut mengembangkan produk baru atau menargetkan kepada pangsa pasar baru? Hal inilah yang disebut dengan product focused marketing. Jadi product focused marketing adalah pemikiran tentang bagaimana cara penjual dapat mengembangkan keuntungan yang telah didapatkan sebelumnya apakah mengembangkan produk sehingga dapat menargetkan pangsa pasar yang baru. Sedangkan tipe marketing dari sudut pandang konsumen adalah customer focused marketing. Customer focused marketing adalah tipe marketing dimana fokus utamanya adalah untuk membuat konsumen secara khusus membeli barang dari penjual. Cara yang paling baik untuk membuat konsumen membeli produk dari penjual secara khusus adalah untuk mengerti kebutuhan spesifik yang diinginkan konsumen sebenarnya. Jadi pada product focused market, penjual mengganggap bahwa dialah ahlinya dan dia dapat membuat produk yang sangat baik berdasarkan pengalaman sebelumnya. Sedangkan pada customer based market yang dilakukan adalah menemukan keinginan konsumen dan seorang penjual berusaha untuk membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan atau permintaan konsumen saat ini.
Oke, sekarang kita akan melihat apa kebutuhan konsumen yang dapat menciptakan nilai tertentu bagi konsumen itu sendiri. Pertanyaan yang muncul adalah konsumen yang mana. Hal tersebut dikarenakan bahwa permintaan konsumen sangatlah beragam. Oleh karena itulah mengapa buyer’s market atau customer focused marketing sangatlah berbeda dengan product focus. Akan tetapi pada customer focused marketing, hal yang perlu dilakukan adalah memilih dengan pasti siapa sajakah konsumen yang akan ditargetkan untuk produk tersebut. Hal inilah yang dinamakan dengan proses segmentasi (pemilihan pangsa pasar atau konsumen). Segmentasi merupakan proses dimana penjual akan mengatakan tidak jika barang yang dibuat memang tidak ditargetkan untuk dia dan mengatakan iya jika produk yang dijual memang ditujukan untuk kelompok tertentu. Oleh hal inilah muncul suatu pertanyaan tentang bagaimana cara penjual mengembangkan keuntungan mereka. Jawaban mengenai pertanyaan itu adalah seorang penjual harus menjual produk pada segmen tertentu dan menciptakan nilai lewat pelayanan ekstra (cepat tanggap, ramah, sopan dan selalu mengutamakan kepuasan konsumen) yang mereka berikan kepada konsumen. Jadi yang dimaksudkan disini adalah penjual mendapatkan keuntungan bukan dari jumlah kuantitas barang yang mereka jual, namun mereka mendapatkan keuntungan dari nilai yang mereka ciptakan terhadap konsumen. Proses menciptakan nilai kepada konsumen lewat barang yang dijual dapat disebut dengan value based marketing. Baik, jika seorang penjual mampu menjual produk dan menciptakan nilai kepada konsumen secara berulang, maka secara tidak sadar konsumen tersebut bersedia untuk membayar harga produk dengan harga yang tinggi, sehingga keuntungan dapat meningkat dengan sendirinya dan mengakibatkan konsumen menjadi setia terhadap penjual produk tersebut. Konsep seperti ini disebut dengan customer share. Berbeda dengan market share (mengutamakan pangsa pasar yang luas dengan produk tertentu yang belum tentu menjadi kebutuhan konsumen), customer share adalah penjualan produk pada segmentasi pangsa pasar tertentu dan berusaha untuk mendapatkan banyak keuntungan dari kesetiaan konsumen tersebut. Jika seorang penjual dapat melakukan hal itu (customer share) dengan baik, maka keuntungan yang didapatkan akan lebih dari keuntungan yang didapatkan dari market share. Mengapa hal tersebut bisa demikian? Mungkin pertanyaan itulah yang muncul dalam benak Anda. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan oleh biaya yang muncul. Biaya yang dapat terjadi ketika seorang penjual melakukan customer based marketing akan lebih tinggi daripada seorang penjual menciptakan nilai kesetiaan terhadap konsumen. Biaya yang lebih tinggi dapat terjadi karena sulitnya menemukan konsumen baru. Hal tersebut dapat terjadi mengingat konsumen baru didapatkan lewat iklan yang intensif (secara terus menerus). Hal lain yang menjadi keuntungan jika seorang penjual mampu menciptakan nilai terhadap konsumen selain membuat konsumen tersebut membeli produk tertentu ialah kesetiaan juga menimbulkan suatu kepercayaan. Adanya kepercayaan yang timbul dari dalam diri konsumen, maka hal tersebut dapat mengakibatkan konsumen ingin membeli produk lain yang dijual oleh penjual tersebut. Hal itulah yang dinamakan dengan cross selling. Sebagai contoh, seorang penjual mebel melayani pembeli yang ingin membeli tempat tidur (spring bed), setelah pembeli tersebut memutuskan untuk membeli tempat tidur tersebut maka hal yang dilakukan penjual adalah menawarkan produk lain yang berhubungan dengan tempat tidur tersebut, seperti guling, bantal, sprei, dll. Itulah mengapa lebih penting untuk mengutamakan produk yang menjadi kebutuhan konsumen dan tetap memberikan nilai yang lebih kepada konsumen dapat menjadikan konsumen rela membayar dengan harga tinggi dan menciptakan perilaku pemesanan yang berulang kepada penjual yang sama (repeat order). Sementara product focus market hanya dapat menjual produk tertentu tanpa dapat menciptakan nilai kepada konsumen maupun repeat order seperti halnya customer based market.
Pada zaman globalisasi seperti sekarang teknologi, seperti internet telah berkembang dengan cepat. Hal itulah yang dapat membuat konsumen pada zaman sekarang bisa melakukan interaksi dengan konsumen lain dengan cepat dan mudah. Tentu, hal ini dapat menimbulkan keuntungan dan kerugian tersendiri bagi penjual. Pasti Anda bertanya-tanya mengapa demikian. Apabila suatu pelayanan yang dilakukan oleh penjual sangat bagus, maka hal tersebut membuat konsumen dapat menceritakan secara sukarela dengan konsumen lain mengenai hal pelayanan tersebut, sehingga secara tidak sadar konsumen menjadi agen pengiklanan terbaik yang dimiliki oleh perusahaan atau penjual. Akan tetapu jika pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan atau penjual buruk, maka hal tersebut dapat menjadikan mimpi buruk bagi perusahaan atau penjual. Hal inilah yang kemudian dinamakan dengan customer experience (pengalaman yang dirasakan konsumen terhadap perusahaan). Jadi dengan adanya perkembangan di zaman globalisasi seperti saat ini, maka mengakibatkan marketing menjadi transparan, authentic (asli berdasarkan pengalaman konsumen) dan berfokus untuk menimbulkan pengalaman baik bagi konsumen (good experiences for customers). Tidak hanya itu saja, marketing pada zaman sekarang juga harus berfokus untuk mendapatkan nilai dari konsumen demi kelangsungan perusahaan (peningkatan profit). Demi menjaga kelangsungan dari perusahaan (menjaga peningkatan keuntungan), maka yang harus dilakukan bukan hanya menciptakan nilai bagi konsumen saja. Akan tetapi terdapat hal lain yang perlu dilakukan, seperti bersikap fleksibel (dapat dengan mudah menyesuaikan) terhadap perubahan keadaan ekonomi yang tidak menentu dan memotong biaya yang terjadi. Biarkan Saya menjelaskan lebih lagi mengenai pernyataan yang baru saja saya tulis. Ada beberapa perbedaan tipe dari pandangan yang mendasari marketing (marketing’s orientation), yakni pandangan mengenai produk yang dijual (product’s orientation), pandangan mengenai pemasaran (marketing’s orientation) dan pandangan mengenai pengalaman (experience orientation). Product’s orientation adalah dimana sebuah perusahaan membujuk konsumen untuk memfokuskan terhadap produk yang dijual atau diciptakan oleh perusahaan tersebut. Sementara marketing’s orientation adalah dimana kegiatan untuk membujuk perusahaan supaya dapat mengikuti kemauan dari konsumen. Sedangkan experience orientation dimana yang dipikirkan bukan hanya mengenai jumlah transaksi berulang yang dilakukan, akan tetapi yang dikendalikan adalah pengalaman dari konsumen (customer’s experience) dengan perusahaan.
Perbedaan antara ketiga pandangan tersebut adalah objek yang menjadi sasaran dari marketing. Product’s orientation yakni memiliki focus terhadap inovasi produk dan mengurangi biaya untuk seperti produk. Jadi yang dimaksud disini adalah focus utamanya terletak pada produk yang umum dan tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen yang berbeda. Sedangkan marketing’s orientation berarti suatu perusahaan memiliki produk yang beragam sesuai dengan kebutuhan konsumen, sehingga merek akan berpengaruh pada marketing’s orientation. Pada experience orientation fokus utama yang dipikirkan adalah bagaimana mendapatkan nilai dari konsumen, yang dimana akan berdampak pada profit perusahaan. Setelah mengetahui perbedaan dari ketiga orientasi tersebut, maka muncullah suatu pertanyaa mengenai keuntungan kompetitif yang berkelanjutan dari ketiga orientasi tersebut. Pada product’s orientation, perusahaan yang lebih besar lebih diunggulkan karena mereka memiliki pangsa pasar yang lebih luas dan biaya pengeluaran yang rendah, sehingga hal tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi orientasi ini. Pada marketing’s orientation, perusahaan hanya memikirkan tentang kebutuhan yang diinginkan dan kepuasan yang dirasakan oleh konsumen, sehingga perusahaan dapat mengetahui bagaimana cara melakukan konsumen dengan baik lewat produk dan nilai yang dihasilkan. Marketing’s orientation juga memberi keuntungan yang berkelanjutan karena dilandasi dengan adanya rasa kepercayaan konsumen terhadap perusahaan, sehingga hal tersebut juga dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.    
Jadi, seperti yang telah Saya uraikan sebelumnya bahwa terdapat tiga prinsip dari marketing. Prinsip yang terutama adalah jika perusahaan ingin menyediakan sesuatu bagi konsumen, maka hal yang terpenting jika konsumen benar-benar ingin membeli dari perusahaan tertentu tanpa memerhatikan perusahaan lainnya. Hal tersebut dikarenakan perusahaan Anda mampu menciptakan nilai tersendiri untuk konsumen. Prinsip yang kedua adalah perusahaan harus menyediakan produk yang khusus untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara penawaran yang beragam dan menyisipkan nilai tersendiri bagi konsumen. Prinsip yang ketiga merupakan segmentasi, pemilihan target dan pemilihan posisi. Suatu perusahaan tidak dapat hanya membuat produk dan menyisipkan nilai tersendiri bagi konsumen. Akan tetapi yang perlu dilakukan adalah melakukan segmentasi pasar. Segmentasi pasar bertujuan untuk memfokuskan arah pemasaran dari produk yang dibuat. Jika perusahaan telah melakukan segmentasi dan menetapkan segmen tersebut, maka perusahaan dapat memposisikan identitas produk (brand) kepada konsumen. Alat yang digunakan adalah 4P’s, yaitu product, place, promotion and price. Mari kita mengkilas balik tentang pertukaran. Pada pertukaran informasi yang dimaksudkan adalah dari posisi perusahaan pertukaran yang dimiliki adalah produk. Sementara dari konsumen pertukaran yang dimaksudkan adalah harga. Bagaimana cara penjual mengkomunikasikan tentang produknya disebut promosi dan bagaimana perusahaan menempatkan produknya di kalangan konsumen disebut penentuan tempat (place decision). Penentuan tempat dapat dilakukan secara online atau bentuk fisik toko (retailer).
Prinsip dari marketing juga dapat diterapkan untuk kegiatan yang bersifat non profit (tidak memerhatikan keuntungan). Sebagai contoh adalah kegiatan donor darah, The American Red Cross menggunakan prinsip marketing untuk menjaring lebih banyak pendonor darah. Melihat contoh tersebut, mari kita berpikir apa produk yang ditawarkan dari The American Red Cross ketika mereka ingin lebih banyak darah. Selain itu apa yang American Red Cross lakukan untuk membuat banyak orang ingin melakukan kegiatan donor darah tersebut. Jadi seperti yang Anda telah ketahui, bahwa kegiatan donor darah merupakan kegiatan yang mulia, karena dapat membantu menyelamatkan nyawa seseorang. Namun, untuk sebagian orang hal tersebut saja belum cukup. Sebagian orang ingin mendapatkan sticker sebagai tanda telah mengikuti kegiatan donor darah dan sebagian orang mungkin ingin menikmati jus atau kue yang disediakan setelah kegiatan donor darah usai. Kegiatan donor darah kebanyakan sukses dilakukan di lingkungan sekolah. Hal tersebut dikarenakan kegiatan donor darah dapat memberikan ”kesempatan” bagi siswa untuk tidak mengikuti kelas secara penuh. Jadi inilah yang disebut produk dari donor darah yang tidak bersifat profit. Sedangkan untuk promosi terletak pada bagaimana cara The American Red Cross mengkomunikasikan manfaat dari kegiatan donor darah kepada para pendonor. Sementara untuk penentuan tempat terletak pada kegiatan The American Red Cross yang bergerak dari suatu tempat menuju tempat lain (mobile). Hal tersebut bertujuan untuk menjemput konsumen (pada kasus ini pendonor) melainkan bukan menunggu konsumen. Sesungguhnya cara yang dilakukan The American Red Cross sangat inovatif, hal tersebut dikarenakan The American Red Cross mampu mengimplementasikan konsep 4P’s dengan baik dan menarik.

                                           

Rabu, 21 September 2016

Plastics or Papers and Rethink of Environmental Folklore

Ketika Anda sedang berbelanja di suatu supermarket, Anda akan ditawarkan akan tas belanjaan yang akan anda gunakan, yakni tas plastik atau tas kertas? Banyak yang beranggapan bahwa tas dari bahan kertas lebih ramah lingkungan. Hal tersebut dikarenakan tas dari bahan kertas mudah didaur ulang, dapat digunakan kembali dan dapat diuraikan. Tas yang berbahan dasar dari kertas memang lebih ramah lingkungan, namun banyak orang tidak memikirkan dampak jangka panjang bagi lingkungan yang dapat terjadi apabila tas dari kertas terus digunakan. Untuk membuat tas berbahan dari kertas kita harus mengekstraksi sebagian dari sumber daya alam yang tersedia di bumi. Bayangkan apabila terjadi pengekstraksian sumber daya alam secara terus menerus terhadap sumber daya yang tersedia. Hal tersebut tentunya akan menimbulkan unsustainable systems (sistem yang tidak berkelanjutan). Oleh karena itu pilihan kita akan berdampak pada complex system (sistem komlpleks) yaitu sistem yang terdiri dari human system (sistem interaksi antar manusia), industrial system (sistem interaksi antara produk dengan manusia) dan ecological system (sistem interaksi antara manusia, produk dan bumi atau planet).
            Suatu produk yang dibuat pasti membentuk suatu siklus dalam tahapan pembuatannya. Siklus yang terjadi antara lain adalah material extraction (ekstraksi sumber daya alam), manufacturing (proses manufaktur atau produksi), packaging and transportation (pengepakan dan pengiriman), product use (penggunaan produk) dan end of life (akhir dari siklus hidup). Tanpa kita sadari, sesungguhnya dalam tahapan pada siklus kita telah melakukan interaksi yang memiliki dampak terhadap lingkungan. Oleh karena itu terdapat suatu analisis yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besarkah dampak yang kita timbulkan terhadap lingkungan yang disebut life cycle assessment. Seringkali kata yang terlintas di benak kita mengenai sustainability adalah biodegradability. Hal tersebut dikarenakan biodegradability merupakan indikator suatu produk dapat diurai dengan baik setelah selesai digunakan. Sesungguhnya biodegradability bukan merupakan definisi yang dapat mengakibatkan dampak positif bagi lingkungan. Sebagai contoh jika suatu produk yang telah selesai dipakai dan diurai di tanah, maka hasil penguraian akan menimbulkan gas metana yang 25 kali lebih berpengaruh daripada karbon dioksida untuk menimbulkan pemanasan global. Gas metana dapat terjadi karena pada saat diurai di tanah reaksi yang terjadi adalah rekasi anaerob (suatu reaksi yang tidak terdapat oksigen di dalamnya).

            Seringkali di dunia terjadi fenomena-fenomena yang mengakibatkan ketidakstabilan suatu sistem. Fenomena yang terjadi adalah tingginya perilaku konsumsi yang ditunjukkan oleh masyarakat saat ini. Tingginya perilaku konsumsi telah mengakibatkan banyak waste (limbah) yang dapat mencemari lingkungan. Selain itu tingginya perilaku konsumsi juga mengakibatkan penggunaan energi juga bertambah. Sebagai contoh seiring dengan adanya kulkas dapat memungkinkan seseorang untuk lebih memiliki sifat konsumtif pada makanan. Kebanyakan orang cenderung untuk membeli makanan sebanyak mungkin yang belum tentu mereka dapat habiskan. Mereka beranggapan bahwa dengan adanya kulkas, maka makanan dapat menjadi lebih awet sehingga hal tersebut dapat mengurangi waste (hasil sisa) dari makanan. Namun, anggapan tersebut tidak benar karena penyumbang salah satu masalah unsustainable system adalah kulkas. Fakta di United Kingdom menyatakan bahwa masalah kedua terbesar adalah waste dari soggy lettuces (sayur yang lembek). Banyak orang tergoda pada fasilitas kulkas yang menawarkan crisper drawers (laci penyimpan yang bertujuan untuk menyimpan sesuatu tidak menjadi lembek), akan tetapi hal tersebut masih bisa menyebabkan sayur yang kita simpan menjadi lembek, sehingga sayur tersebut pada akhirnya akan dibuang dan menyebabkan waste. Bayangkan bila banyak sayur yang dibuang sama saja dengan menyia-nyiakan nutrisi, pupuk, cahaya matahari, air dan benih yang semuanya berfungsi untuk proses penanaman sayur tersebut, maka hal itu dapat menyebabkan unsustainable system pada life cycle. Fenomena kedua yang terjadi di UK adalah penggunaan teko listrik yang berlebihan. Penggunaan teko listrik di UK sangat tidak efisien. Hal tersebut dikarenakan sebanyak 65% orang di UK menggunakan teko listrik yang diisi penuh untuk merebus air meskipun mereka hanya perlu untuk segelas teh saja. Bayangkan bila banyak orang berbuat demikian berapa banyak energiyang terbuang sia-sia dari teko listrik. Fenomena berikutnya adalah electronic waste (limbah elektronik). Menumpuknya e-waste disebabkan banyak orang ingin mengganti model elektronik lama dengan model yang terbaru meskipun secara fungsional masih bisa dipakai. Hal inilah yang dapat menyebabkan unsustainable system. Fakta menunjukkan bahwa komunitas di Ghana membakar e-waste di udara terbuka untuk menemukan emas dan material berharga lainnya.

            Melihat fakta-fakta yang ada dan pencarian jawaban mengenai pemilihan plastic atau kertas sebenarnya telah menimbulkan cerita tersendiri mengenai lingkungan (environmental folklore). Seperti halnya cerita-cerita pada umumnya yang memiliki inti bahwa kita harus melakukan hal dengan benar untuk dapat tetap menjaga lingkungan tetap sustainable. Kita tidak perlu takut untuk melakukan hal benar dengan menjaga keberlanjutan dari lingkungan. Kita juga harus melakukan inovasi-inovasi yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif bagi lingkungan seperti contoh yang telah dijabarkan di atas.       

Selasa, 13 September 2016

What is the difference between marketing 1.0, 2.0 and 3.0?

Era globalisasi telah mengakibatkan perkembangan yang sangat signifikan di berbagai bidang kehidupan, seperti bidang teknologi. Teknologi yang semakin berkembang mengakibatkan seluruh dunia dapat mengetahui berita atau kabar di belahan dunia lain dapat diketahui dengan cepat. Hal itulah yang mendasari adanya transparansi di era sekarang ini. Transparansi tidak hanya terdapat pada bidang teknologi saja melainkan transparansi juga terdapat di perusahaan. Pada zaman dahulu (sebelum perkembangan teknologi yang pesat) seorang salesman menjual produk dengan cara konvensional, seperti menawarkan produk dengan kualitas terbaik, janji-janji menawan, dsb. Hal itulah yang disebut sebagai “marketing 1.0”. Era marketing 1.0 menunjukkan bahwa salesman dapat menjual produk hanya dengan sebatas rekan kerja melainkan tidak memahami kebutuhan emosional dari konsumen yang dilayani. Setelah era marketing 1.0 berlalu, selanjutnya muncul era marketing 2.0. Pada era ini seorang salesman dari sebuah perusahaan menjual produk dan memikirkan bagaimana membuat konsumen-konsumen yang dilayani menjadi setia terhadap supplier (perusahaan). Seorang salesman dituntut untuk lebih memikirkan hubungan secara personal terhadap konsumen yang dilayani, seperti memerhatikan kebutuhan emosional yang sesungguhnya dibutuhkan oleh konsumen yang bersangkutan. Hubungan secara personal dengan konsumen dapat membuat konsumen tersebut setia dengan produk yang dijual.
Perkembangan globalisasi pada saat ini juga memunculkan era marketing 3.0, yakni sekarang suatu perusahaan tidak hanya menjual produk dan memerhatikan kebutuhan konsumen saja melainkan harus memiliki nilai positif di balik nilai jual suatu produk. Seperti produk pasta gigi, di Indonesia terdapat perusahaan pasta gigi yang tidak hanya menjual produk yang diproduksi, namun produk tersebut mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga kebersihan dan merawat gigi dengan cara menyikat gigi dengan rutin (dua kali dalam sehari). Hal inilah yang disebut dengan menjadikan dunia lebih baik lewat produk yang ditawarkan. Berikut ini merupakan tabel perbandingan antara marketing 1.0, marketing 2.0 dan marketing 3.0:

Marketing 1.0
Marketing 2.0
Marketing 3.0
Target perusahaan
Menjual produk
Menjual produk dan membuat konsumennya menjadi loyal
Mengutamakan nilai atau makna positif di balik penjualan produk
Sudut pandang perusahaan terhadap konsumen
Mass buyers
Kebutuhan konsumen dengan tingkat rasional dan emosional konsumen
Konsumen yang secara holistic memiliki mind, heart, dan spirit.
Konsep pemasaran
Pengembangan produk
Pengembangan produk dan hubungan intimasi dengan konsumen
Nilai-nilai atau makna positif
Nilai yang dijual perusahaan
Fungsional
Fungsional dan emosional
Fungsional, emosional dan spiritual
Interaksi dengan konsumen
Transaksi yang bersifat one to many
Hubungan intimasi yang bersifat secara personal (one to one)
Kolaborasi antar beberapa konsumen (many to many)
Panduan Pemasaran
Spesifikasi produk yang ditawarkan
Positioning perusahaan dan kebutuhan konsumen secara emosional
Visi, misi dan values dari perusahaan
    

     


Minggu, 11 September 2016

What is Malthusian Catastrophe?

Populasi di dunia saat ini meningkat secara eksponensial. Peningkatan populasi secara eksponensial akan menyebabkan tingkat sustainability menjadi semakin rendah. Sesungguhnya pernyataan tersebut telah dikemukakan 200 tahun yang lalu oleh Thomas Maltus. Thomas Maltus mengemukakan bahwa populasi manusia dari tahun ke tahunnya meningkat secara eksponensial yang berarti bahwa setiap periode pertumbuhannya menjadi dua kali lipat dari periode sebelumnya. Sementara itu produksi sumber makanan (agriculture) mengikuti distribusi aritmatika yang berarti dari tahun ke tahun jumlah produksi makanan meningkat sebesar angka yang konstan dari period eke periode selanjutnya. Berikut ini merupakan tabel perbandingan pertumbuhan penduduk dan jumlah produksi makanan dari periode ke periode selanjutnya:
Pertumbuhan penduduk secara eksponensial
Periode
1
2
3
4
5
Jumlah
1
2
4
8
16

Jumlah produksi makanan dengan distribusi aritmatika
Periode
1
2
3
4
5
Jumlah
2
4
6
8
10

Kedua tabel tersebut dapat digambarkan menjadi suatu grafik yang berhubungan satu dengan yang lain, yaitu antara peningkatan jumlah penduduk dengan jumlah produksi makanan. Berikut ini merupakan gambar grafik:
Perpotongan garis populasi dan jumlah produksi makanan disebut point of crisi

Pada gambar grafik antara peningkatan jumlah penduduk dan jumlah produksi makanan didapatkan suatu pertanyaan besar dan adanya point of crisis (titik di mana jumlah populasi yang ada telah melebihi jumlah produksi makanan), yakni “Apakah yang akan terjadi pada populasi yang telah melewati point of crisis?. Hal inilah yang disebut dengan Malthusian Catastrophe (jumlah populasi yang melebihi carrying capacity dan melebihi jumlah produksi makanan akan menyebabkan kelaparan, kesengsaraan dan kemiskinan). Sesungguhnya point of crisis dapat ditekan apabila produksi makanan juga mengikuti distribusi secara eksponensial, sehingga hal tersebut akan meminimalkan tingkat kelaparan yang dapat terjadi.

Prediksi Thomas Maltus mengenai kelaparan dan kesengsaraan yang terjadi akibat dari meningkatnya jumlah populasi memang benar terjadi pada tahun 1800 (setelah Thomas Maltus mengemukakan prediksinya) di Inggris. Kondisi saat itu di Inggris memang terjadi peningkatan populasi secara eksponensial, sehingga kelaparan, kesengsaraan dan kemiskinan terjadi di Inggris. Kondisi penduduk di Inggris jika dibandingkan pada zaman batu sangat mengenaskan. Hal tersebut dikarenakan kondisi masyarakat pada zaman batu standar hidupnya lebih baik daripada standar hidup penduduk Inggris pada tahun 1800, sehingga dapat dikatakan kondisi penduduk di Inggris pada saat itu memiliki tingkat sustainability yang rendah. Seiring dengan perkembangan zaman dan waktu, prediksi dari Thomas Maltus tidak benar lagi seluruhnya. Hal tersebut mengakibatkan munculnya pandangan baru atau yang disebut dengan “Neo Malthusian”. Neo Malthusian merupakan pandangan baru bahwa seiring dengan meningkatnya jumlah populasi di dunia tidak sepenuhnya menyebabkan bencana kelaparan, kesengsaraan dan kemiskinan. Hal ini memang benar ditunjukkan oleh kondisi penduduk Inggris saat ini dibandingkan dengan tahun 1800 (sesaat setelah Thomas Maltus mengemukakan prediksinya) menunjukkan perbandingan 50 kali jauh lebih makmur saat ini dibandingkan dengan saat itu (1800). Hal tersebut dapat terjadi karena peningkatan populasi juga berdampak terhadap perkembangan teknologi maupun perekonomian di dunia, sehingga perekonomian negara meningkat dan perkembangan teknologi dapat terjadi secara signifikan. Oleh karena itu peningkatan jumlah populasi manusia secara eksponensial belum tentu menyebabkan bencana kelaparan, kesengasaraan dan kemiskinan dapat terjadi. Pada sebelumnya memang peningkatan populasi manusia dapat menyebabkan peningkatan pemakaian sumber daya alam juga, akan tetapi apabila peningkatan populasi manusia juga berdampak pada perekonomian negara serta perkembangan teknologi baru yang dapat menciptakan atau memperbaharui sumber daya alam yang telah dipakai maka bencana kelaparan, kesengsaraan dan kemiskinan sesungguhnya dapat ditekan maupun diminimalkan. 

What is J-Shape and S-Shape?

Peningkatan populasi di dunia diyakini merupakan salah satu faktor yang memengaruhi keberlanjutan bumi terhadap generasi selanjutnya. Peningkatan populasi yang terjadi sangat signifikan akan mengakibatkan tingkat keberlanjutan bumi semakin rendah. Namun, bila peningkatan populasi di dunia tidak terjadi secara signifikan maka tingkat sustainable (keberlanjutan) akan semakin tinggi. Kedua pernyataan tersebut sejatinya menimbulkan pertanyaan besar tentang “Bagaimana sesungguhnya tingkat peningkatan populasi yang ada di dunia pada saat ini?”. Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menggunakan dua perumpamaan sebagai berikut:

1.      1. Populasi Reindeer (Rusa Kutub)
Reindeer merupakan binatang yang paling sering dijumpai di daerah St Matthew Island. Pada tahun 1944 terdapat 29 ekor reindeer yang hidup di sana. Pada tahun 1945 hingga tahun 1962 populasi reindeer telah mencapai 6000 ekor. Namun, pada tahun 1963 hingga 1964 populasi reindeer turun drastis hingga mencapai 42 ekor dan hingga tahun 1980 tidak ada satu ekor pun reindeer yang tersisa. Hal tersebut dapat terjadi karena pada tahun 1963 hingga 1964 terjadi musim dingin dan seiring dengan meningkatnya populasi reindeer secara eksponensial menyebabkan sumber makanan akan menurun secara drastis, sehingga menyebabkan banyak reindeer yang tidak dapat bertahan (survive) selama musim dingin tersebut. Peningkatan populasi reindeer dapat dikatakan sebagai J-shape.

2.      2. Populasi Sel
Sel yang hidup atau berkembang biak di cawan petri tidak berkembang secara eksponensial. Hal tersebut mengakibatkan sel dapat hidup bertahan lebih lama. Hal tersebut dikarenakan sumber makanan yang ada di cawan petri dapat terdistribusi secara merata, sehingga tidak akan terjadi kehabisan sumber makanan yang dapat mengakibatkan kepunahan suatu populasi. Pertumbuhan populasi sel membentuk grafik S-shape.

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai grafik J-shape dan S-shape.
1.      J-shape

Grafik J-shape merupakan grafik pertumbuhan populasi yang populasinya meningkat secara eksponensial.

2.      S-shape

Grafik S-shape merupakan peningkatan populasi yang pada saat titik tertentu populasinya meningkat secara konstan.

Grafik J-shape dan grafik S-shape sebenarnya bergantung pada carrying capacity. Berikut ini merupakan gambar grafik J-shape dan S-shape kaitannya dengan carrying capacity:

Carrying capacity merupakan kapasitas maksimum dari suatu populasi. Grafik J-shape merupakan grafik peningkatan populasi yang meningkat secara eksponensial (melebihi kapasitas maksimum dari suatu populasi). Pada grafik J-shape dapat menyebabkan crash (menurunnya populasi secara drastis). Crash dapat terjadi karena peningkatan populasi secara eksponensial mengakibatkan sumber daya alam dapat tereksploitasi secara berlebihan, sehingga mengakibatkan punahnya suatu populasi. Grafik S-shape merupakan grafik pertumbuhan populasi yang tidak melebihi carrying capacity. Grafik S-shape mengindikasikan bahwa suatu populasi ke depannya tidak cepat punah. Hal tersebut dikarenakan sumber daya alam yang tersedia tidak dieksploitasi secara berlebihan.
Grafik S-shape dan grafik J-shape sangatlah berhubungan dengan tingkat sustainability (keberlanjutan). Semakin tinggi atau besarnya tingkat eksploitasi sumber daya alam yang tersedia, maka tingkat sustainability akan semakin rendah pula dan juga sebaliknya. Oleh karena itu satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita perlu menggunakan sumber daya alam dengan tidak berlebihan apabila peningkatan populasi di dunia telah mengikuti bentuk J-shape.